Menurut Kantor Berita ABNA, Bertepatan dengan pekan persatuan, kelahiran Rasulullah Saw dan cucunya, Imam Shadiq as, para pejabat, tamu asing peserta Konferensi Persatuan Internasional ke 27, para duta besar negara-negara Islam serta berbagai lapisan masyaratkan hari Ahad (19/1) bertemu dengan Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei.
Dalam pertemuan tersebut, Rahbar menjelaskan urgensitas dan indeks persatuan di Dunia Islam. Beliau menekankan, "Memerangi setiap anasir anti persatuan merupakan kewajiban besar bagi umat Muslim baik Syiah maupun Sunni." Tak diragukan lagi bahwa persatuan berarti mengedepankan sisi persamaan, namun apa sisi kesamaan dan isu apa yang menjadi perbedaan?
Jika persatuan dipandang melalui dimensi nasib Dunia Islam, maka yang paling menonjol adalah sisi perangkat keras dan lunak peran kekuatan imperilis dunia dalam menciptakan perpecahan di tubuh umat Islam. Dari sisi perangkat keras, kekuatan imperilis dunia dewasa ini dengan dalih mendukung demokrasi dan kebebasan tengah berusaha memecah belah wilayah Islam. Strategi busuk ini telah dimulai sekitar enam dekade lalu dengan penghancuran negara dan pendudukan di bumi Palestina.
Di abad 21, strategi pemecahbelahan ini tampil lebih lunak, khususnya ketika menghadapi gerakan Kebangkitan Islam. Pembagian negara Sudan dan berbagai transformasi yang terjadi di Libya serta Mesir merupakan kepanjangan dari strategi dan ideologi penghancuran persatuan di Dunia Islam.
Munculnya gerakan ekstrim dan radikal yang mengatasnamakan Islam serta kelompok teroris di tingkat global merupakan hasil dari strategi pemecahbelahan antarmazhab yang dipelopori oleh ideologi takfiri. Dalam hal ini tidak boleh juga dilupakan dukungan kekuatan intervensif dan rezim diktator yang berkedok Islam terhadap kelompok takfiri.
Kekuatan imperialis membidik persatuan Islam dengan memanfaatkan berbagai ideologi menyimpang seperti Wahabi dengan tujuan merusak setiap upaya untuk merealisasikan persatuan umat Islam. Salah satu bentuk nyata dari upaya ini adalah gerakan untuk menghancurkan identitas bangsa Islam, seperti yang telah diterapkan kepada bangsa Palestina.
Mengingat poin ini, Rahbar menjelaskan, "Dunia imperialis selama 65 tahun berusaha keras menghapus nama Palestina, namun mereka gagal karena di saat-saat yang sensitif seperti perang 33 hari di Lebanon, 22 hari dan 8 hari di Jalur Gaza, umat Islam menunjukkan bahwa mereka masih hidup. Meski Amerika Serikat mengalokasikan dana besar-besaran dalam kasus ini, namun umat Islam berhasil menampar muka rezim ilegal Israel.
Realitanya adalah di Dunia Islam yang luas masih terdapat kapasitas besar baik ekonomi, politik, etnis, bahasa, geografi dan mazhab yang menjadi titik persamaan mereka dalam Islam yang menekankan persatuan. Unsur ini menjadi indeks penting dalam terbentuknya kekuatan lunak umat Islam yang mampu mempersatukan Dunia Islam dalam menghadapi konspirasi dan ancaman. Namun kapasitas ini masih belum mampu dicerna dan digali oleh umat Islam sendiri.
Faktor yang membuat umat Islam belum mampu menggali kapasitas tersebut harus dicermati dari pergerakan musuh yang senantiasa berusaha menghancurkan persatuan di antara umat Muslim. Musuh tidak pernah diam menyaksikan persatuan di antara Muslim. Namun yang lebih penting dalam kasus ini adalah kelalaian para cendikiawan akan urgensitas persatuan Islam. Hasil dari dua gerakan merusak ini adalah hancurnya struktur stabilitas dan keamanan negara-negara Islam.
Sejatinya sejumlah pemerintah di Dunia Islam malah mempersiapkan perpecahan mazhab, sosial dan nasional di masyarakat Islam dengan mendukung ideologi sesat ketimbang memupuk persatuan. Oleh karena itu, Rahbar menyebut tugas menciptakan persatuan berada di pundak para cendikiawan, ulama dan elit politik. Beliau menjelaskan, elit politik harus menyadari bahwa kemuliaan dan kehormatan mereka sangat bergantung para rakyat dan bukannya pada pihak asing.
Tak diragukan lagi bahwa yang paling penting adalah Dunia Islam tengah mengadapi ancaman terbesar berupa upaya perpecahan yang dilancarkan para musuh. Padahal Islam memilik potensi untuk mempersatukan seluruh pengikutnya dalam satu barisan untuk menghadapi musuh.